Siapa Saya
Awal Kelahiranku tak begitu menakjubkan, aku bukan seorang utusan yang dinanti melainkan segenggam darah yang lambat laun akan kembali mati.
Tengah malam itu awal aku menyapa dunia dengan raungan merdu hingga seluruh menatapku haru. Aku hidupi terombang-ambing dalam perantauan semu, dalam cubitan lucu yang tak pernah kusadari selama 4 tahun.
Setelah itu deret huruf perlahan kubaca, deret angka kulafalkan, ku operasikan hingga menjadi senjataku untuk menghadapi jejalnya kehidupan yang masih tak bisa ku artikan.
Dalam awal penantian itu ku jejakkan tubuh kecilku pada celotehan senyum polos manusia seumurku. Itu terus berlanjut dan terus hingga ku bisa menendang sebuah bola, menolak sebuah suruhan, menyangkal sebuah tuduhan, dan melakukan ejekan.
Aku hidup karena sekelilingku memberikan apa yang harus ku lakukan, aku belajar menutupi kesalahan, disaat aku juga harus membedakan mana yang benar, atau salah.
Perjalanan masih berlanjut, aku harus memainkan senyum dibalik dada yang terasa sesak. Melambaikan tangan dihadapan cacian orang.
Bersandiwara sebagai orang baik demi menghindari peran antagonis.
Hingga akhirnya kusadari hidupku ini.
Bagai cuka dalam suasana basa.
Bagai Ikatan CarbonMonoksida yang bukan aturan oktet biasa.
Bagai Ketidaktetapan Resonansi.
Komentar
Posting Komentar