Hipolavoiite (part 14)

. . . Sungguh tak menarik bagian terlepas'a jiwa daripada raga, disebut orang khayalan latah. Bagiku bukan sembarang lepas dan akan segera kuakhiri dengan cerita lain. Kutelusuri jejal belukar, tak ada rasa lelah karena keinginan menebus kesalahan lebih kuat daripada naluri keduniaan. Berjam-jam melewati hari, malam sama juga telampaui. Tak kuingat meski tetap pada ritme yg senada dalam mengatur irama jejak. Langkahku kali ini bagai seorang pawang dengan ular'a, walau dikata orang menakutkan tapi baginya tak lain layak'a sebuah mainan. Benar semua orang dibedakan pandang atas apa2 yang Tuhan perlihatkan di dunia. Andaikan tidak, bilamana seorang cantik dicintai seantero kumpulan pria karena kesamaan pandang, maka bertengkarlah mereka, habis pertemanan, saling membunuh demi sesuatu tak tentu bakal nyata. Walaupun ada maka mata hati mereka tidaklah terbuka seluruh, jikalah semua terbuka manakah pula seorang yang akan berdagang? Semua berebut harta, hambar, tak ramai dunia. Juga apakah lupa mereka akan janji Maha Esa bahwa setiap manusia diciptakan berpasangan. Tak usah lagi dibahas hal itu, jelmaan setan munafik akan tersinggung, puncaknya pura-pura tak mengerti, seperti kumpulan iblis yang tersesat oleh bayangan mereka sendiri.
Semua yang tampak menakutkan kini bercahaya, mungkin rasa keduniaanku tertinggal. Jalanku bagai lurus menempuh, sumber kekuatan berlainan yang terus memperbudak hingga aku yang tak tampak tak merasa lelah. Aliran hujan deras tak membuat basah, begitu saja menembus bagian dari diriku yang tak kurasa. Hantar2 kilat saling menyahut, kunanti menyambar dengan kuunjukan jariku menantang langit. Dia menyambar malah aku makin bergetar, berubah menjelma sebagai tenaga alam, membuat aku semakin kuat. Padahal ingin segera kuakhiri perantauan tanpa arti. Lebih baik meregang nyawa, berjuang melepas ajal walau pedih'a akan lama di kerongkongan. Daripada tak berakhiran. Benar, aku putus asa, aku ingin segera mengakhiri. Membunuh diripun percuma, tak bisa. Jiwa ini begelayangan, panggilan2 naas ku tak tertahan. Terasa membuat langit bergeming namun tak seorang mendengar, layak'a jeritan dalam hati namun saking keras'a merubah tabiat wajah memamerkan mimik tak senada, dengan logika, perasaan, hati, hati, dan hati. Wahai gerangan alam yang tak pernah tidur dalam berputar dan memberi kami kehidupan. Seakan kutahu semua akan berakhir, kuputuskan aku hanya akan duduk tak bergeming. Selamanya hingga akhir cerita itu sendiri yg menjemputku, karena kutahu hari penantianpun akan datang, apalagi takdir bagi seorang hamba tanpa lencana sebagai prajurit Tuhan yang agung. Semua akan segera berakhir. . .

Komentar