Hipolavoitte (part 13)
. . . Sekumpulan manusia biasa tak dapat melihatmu sekarang, mereka hanya dapat melihat tubuhmu yg terbujur kaku. Kau akan segera kembali pada ragamu tak lama setelah kau temu cinta sejati, waktu kau mencari tak lama, begitu benang merah terlihat merenggang seakan hendak terputus, itulah saat kau kembali atau terhilang raga selamanya. Kau terhilang raga saat kau belum juga menemukan apa tujuanmu. Segera tatap tajam yg baru saja mendekat itu hilang.
Datang terganti kedatangan seekor elang, dia mendekat, menepi di bahuku. Badan'a tak biasa, terlihat gagah, ia busungkan dada. Erangan parau'a seakan ucap salam perkenalan, paruh'a seakan menunggu mangsa, tatap mata'a merah tajam, seharusnya ku silau tapi tidak, entah mengapa. Tegak tubuh'a dihiasi gulita bulu, begitu padu dengan kegelapan.
Harus kemanakah aku mulai melangkah, mau tak mau harus kuawali.
Akhir'a kucapai lereng sebuah gunung, setengah dari perjalanan tanpa tujuan, terombang-ambing, bagai seorang awak kapal dalam laut lepas ditengah badai, tiap detik'a terasa menyakitkan, mencecar kearifan sang naif, hingga kemunafikan memuncak terasa menggertak keperkasaan langit. Kepala ku terasa tertusuk, ternyata patukan sang elak menjamah. Terasa panas bagai radiasi reaksi eksotermik. Semakin terasa mengena hingga ku tertunduk, tersungkur sampai ujung hidung berpapas tanah. Emosi memuncak setelah lama tertahan, kuterpa leher sang burung, kukoyak dengan sebuah batu yg berujung tajam, hingga tajamnya membuat darah kehidupan dalam tubuhnya keluar mengotori dunia yg tak pernah bicara lewat kata. Tak lama ia terbang menjauh meninggalkan darah'a yg terus mengisi kesenggangan monoton udara yg penuh oleh gas bernomor atom 14 namun dalam bentuk molekul. Kembali pada darah sang elang yang membentang pada garis lurus hingga menuju puncak gunung. Bayangan seorang yang awal datang lagi muncul, terlihat jengkel, selagi menghardik dia berkata, mengapa kau hendak bunuh elang penunjuk jalanmu, tidakkah engkau sadar ujung paruh'a mengelabuimu untuk terus mengikuti jalan'a, segera kejar dia, ikuti jejak darah'a, belum ku menjawab segera dia menghilang. sebagai reseptor yang baik segera kulakukan, karena tak ada petunjuk lain mengutamakan ego setelah melakukan kesalahan tanpa syarat sedari awal.Seharusnya ku lebih peka menghadapi keadaan yg terencana sebelum penyesalan datang. Apa beda ku dan yg lain jika terus begitu. Baikku segera lari mengejar jejak darah itu hingga puncak perhentiannya . . .
Datang terganti kedatangan seekor elang, dia mendekat, menepi di bahuku. Badan'a tak biasa, terlihat gagah, ia busungkan dada. Erangan parau'a seakan ucap salam perkenalan, paruh'a seakan menunggu mangsa, tatap mata'a merah tajam, seharusnya ku silau tapi tidak, entah mengapa. Tegak tubuh'a dihiasi gulita bulu, begitu padu dengan kegelapan.
Harus kemanakah aku mulai melangkah, mau tak mau harus kuawali.
Akhir'a kucapai lereng sebuah gunung, setengah dari perjalanan tanpa tujuan, terombang-ambing, bagai seorang awak kapal dalam laut lepas ditengah badai, tiap detik'a terasa menyakitkan, mencecar kearifan sang naif, hingga kemunafikan memuncak terasa menggertak keperkasaan langit. Kepala ku terasa tertusuk, ternyata patukan sang elak menjamah. Terasa panas bagai radiasi reaksi eksotermik. Semakin terasa mengena hingga ku tertunduk, tersungkur sampai ujung hidung berpapas tanah. Emosi memuncak setelah lama tertahan, kuterpa leher sang burung, kukoyak dengan sebuah batu yg berujung tajam, hingga tajamnya membuat darah kehidupan dalam tubuhnya keluar mengotori dunia yg tak pernah bicara lewat kata. Tak lama ia terbang menjauh meninggalkan darah'a yg terus mengisi kesenggangan monoton udara yg penuh oleh gas bernomor atom 14 namun dalam bentuk molekul. Kembali pada darah sang elang yang membentang pada garis lurus hingga menuju puncak gunung. Bayangan seorang yang awal datang lagi muncul, terlihat jengkel, selagi menghardik dia berkata, mengapa kau hendak bunuh elang penunjuk jalanmu, tidakkah engkau sadar ujung paruh'a mengelabuimu untuk terus mengikuti jalan'a, segera kejar dia, ikuti jejak darah'a, belum ku menjawab segera dia menghilang. sebagai reseptor yang baik segera kulakukan, karena tak ada petunjuk lain mengutamakan ego setelah melakukan kesalahan tanpa syarat sedari awal.Seharusnya ku lebih peka menghadapi keadaan yg terencana sebelum penyesalan datang. Apa beda ku dan yg lain jika terus begitu. Baikku segera lari mengejar jejak darah itu hingga puncak perhentiannya . . .
Komentar
Posting Komentar