Hipolavoitte (part 20)
. . . Kupejamkan mata, kusatukan diri sebagai elemen alam, berpasrah diri hingga puncak, hingga mati sekarang pun kurela, tak pernah Tuhan menyesal menciptakan ku maka tak kuasa aku melepas nyawa jika ajal akan tiba.
Ku takkan meminum anggurmu, bunuhlah aku dengan cara terbaikmu, terlalu lama sudah aku menyiakan kesempatan di dunia sebelum'a. Segera aku terduduk bersila sambil menunduk, ia keluarkan pedang bersisi tajam. Silatan suara'a melawan guntur yang murka. Hujan sebagai bius dan terakhir yang mungkin kurasakan.Dia layangkan sisi pembunuh pedang pada leherku dan . . .
Tanganku bergerak sendiri mengepal pedang, tak berasa sakit walau seketika berdarah. Ia terus mencoba mendorong pada sisi nadi, tetap kuat tanganku menahan. Kutegakkan badan, tatap mata solah meluap terhadap pedang. Patahlah pedang itu, segenap jari mengepal pula tegak badan menunduk menyeka amarah. Hujan malah tambah ramai, tak lagi kurasa. Saudaraku mencoba lari, namun karena ku tak berkehendak segera ia berbalik sendiri. Kutarik ia lewat kekuatan pikir. Kujamah kepala'a dengan sekumpulan darah. Ia terkejang2 menahan sakit. Guntur sekali memecah riuh angin. Kilat'a membutakan pandang dan suara'a mentulikan dengar seketika. Pada perhentian akhir terkaparlah ia. Kulepaskan cengkraman tangan. Dia tergolek lesu tak sadarkan diri, pandanganku segera kabur diikuti badan yg berputar tertarik tanah. Jatuhku tak sadar. Entah apa yg terjadi selama ku tak sadar.
Akhir'a kuterbangun oleh suara, suara gadis yang pada awal'a adalah tujuan. Sambil menuntunku pada kebingungan dia berkata. Kau berhasil, seisi dunia telah mengenalmu sebagai petarung. Ku terbingung tak berkata sambil terpaku menatap perban pada telapak tangan. Lanjut ia bersua. Ku senang kau memenangkan pertempuran. Dunia telah lama tersiksa selama seorang yang telah kau taklukkan ada, dan sekarang mereka terlahir kembali dengan ceria. Menanti sang pahlawan menatap mereka, dan itulah engkau. Ia tarik lenganku yang tak terluka selagi mengiringku keluar menemui khalayak. Sorak kemenangan berteriak, menandakan bahwa perang telah berakhir. Bukanku senang malah ingatanku jauh tertuju pada ibu dan adikku, yang telah kata orang ku lenyapkan. Tiba-tiba sedari jauh suara teriakan dari seorang yang terlihat lemah memanggilku, dia tak lain adik terjahatku. Selainku menatap'a hina lagi melempar segala sesuatu pada'a. Kuhentikan perlakuan mereka selagi membiarkan adikku berbicara denagn mendekat pada'a. Kau telah menang, kekuatanku tlah hilang, cengkraman tanganmu telah membuat seluruh kekuatanku hilang dan biarkan aku mati di hadapanmu atas apa yang telah semua kuperbuat. Belum sempat ku hentikan dengan cepat ia menusuk kepala'a dengan pisau. Darah pun mengalir menuju kakiku. Sebenar'a ingin kuajak ia pergi melihat dunia yang bakal mencintai'a. Namun kepergian'a adalah kehendak'a sendiri atas rasa malu terhadap diri. Setelah kejadian besar itu aku kembali pada ibuku membawa seorang gadis, kembali hidup sederhana beserta berjuta kenalan baru, dan melanjutkan studi kimiaku yang lama tertinggal, hahaha
Tamat
Ku takkan meminum anggurmu, bunuhlah aku dengan cara terbaikmu, terlalu lama sudah aku menyiakan kesempatan di dunia sebelum'a. Segera aku terduduk bersila sambil menunduk, ia keluarkan pedang bersisi tajam. Silatan suara'a melawan guntur yang murka. Hujan sebagai bius dan terakhir yang mungkin kurasakan.Dia layangkan sisi pembunuh pedang pada leherku dan . . .
Tanganku bergerak sendiri mengepal pedang, tak berasa sakit walau seketika berdarah. Ia terus mencoba mendorong pada sisi nadi, tetap kuat tanganku menahan. Kutegakkan badan, tatap mata solah meluap terhadap pedang. Patahlah pedang itu, segenap jari mengepal pula tegak badan menunduk menyeka amarah. Hujan malah tambah ramai, tak lagi kurasa. Saudaraku mencoba lari, namun karena ku tak berkehendak segera ia berbalik sendiri. Kutarik ia lewat kekuatan pikir. Kujamah kepala'a dengan sekumpulan darah. Ia terkejang2 menahan sakit. Guntur sekali memecah riuh angin. Kilat'a membutakan pandang dan suara'a mentulikan dengar seketika. Pada perhentian akhir terkaparlah ia. Kulepaskan cengkraman tangan. Dia tergolek lesu tak sadarkan diri, pandanganku segera kabur diikuti badan yg berputar tertarik tanah. Jatuhku tak sadar. Entah apa yg terjadi selama ku tak sadar.
Akhir'a kuterbangun oleh suara, suara gadis yang pada awal'a adalah tujuan. Sambil menuntunku pada kebingungan dia berkata. Kau berhasil, seisi dunia telah mengenalmu sebagai petarung. Ku terbingung tak berkata sambil terpaku menatap perban pada telapak tangan. Lanjut ia bersua. Ku senang kau memenangkan pertempuran. Dunia telah lama tersiksa selama seorang yang telah kau taklukkan ada, dan sekarang mereka terlahir kembali dengan ceria. Menanti sang pahlawan menatap mereka, dan itulah engkau. Ia tarik lenganku yang tak terluka selagi mengiringku keluar menemui khalayak. Sorak kemenangan berteriak, menandakan bahwa perang telah berakhir. Bukanku senang malah ingatanku jauh tertuju pada ibu dan adikku, yang telah kata orang ku lenyapkan. Tiba-tiba sedari jauh suara teriakan dari seorang yang terlihat lemah memanggilku, dia tak lain adik terjahatku. Selainku menatap'a hina lagi melempar segala sesuatu pada'a. Kuhentikan perlakuan mereka selagi membiarkan adikku berbicara denagn mendekat pada'a. Kau telah menang, kekuatanku tlah hilang, cengkraman tanganmu telah membuat seluruh kekuatanku hilang dan biarkan aku mati di hadapanmu atas apa yang telah semua kuperbuat. Belum sempat ku hentikan dengan cepat ia menusuk kepala'a dengan pisau. Darah pun mengalir menuju kakiku. Sebenar'a ingin kuajak ia pergi melihat dunia yang bakal mencintai'a. Namun kepergian'a adalah kehendak'a sendiri atas rasa malu terhadap diri. Setelah kejadian besar itu aku kembali pada ibuku membawa seorang gadis, kembali hidup sederhana beserta berjuta kenalan baru, dan melanjutkan studi kimiaku yang lama tertinggal, hahaha
Tamat
Komentar
Posting Komentar