Hipolavoitte (part 4)
Teori kebolehjadian berkata, langkah'a tidak dapat diterka melainkan jejak'a kala itu dari kemungkinan sepersekian adalah langkah yg akan dia lalui lagi. Tak guna sebuah teori daripada ilmu untuk menerka seorang wanita. Mereka diciptakan dengan emosi, keindahan, dan beribu daya tarik, bahkan berjuta pesona.
Sempat ku bersaksi tak akan pula terpedaya olehnya jikalah waktu'a belum tiba. Namun keadaan seolah menerkam keengganan ku untuk terus mencari, menggali sebuah kebenaran, mungkin waktu'a telah datang, dan beribu pernyataan lagi dgn kata mungkin hadir menyerang, seakan berbelit bagai benang kusut, menjejal daya pikir, menyesakkan ruang gerak.
Langkahku pagi ini bagai seorang laskar penggema kebingungan, dengan tajam'a lamunan membungkukan pundak sambil tertunduk tanpa jaga. Sesekali menatap kosong ke depan, ditemani lambaian pagi pepohonan, lesung pipi yg mengagumkan dari berjejal gadis pun tak ku balas, dalam mataku kali ini semua'a tawar, hambar tanpa pilar2 penyiku duka.
Sampailah pada tempat yg membuatku memar oleh perkataan. Disini sekarang aku tak diam, aku belajar dari hari kemarin, pelajaran lain dari sekedar lembaran termokimia.
Ku bertanya tentang hari2 lalu pada temanku, ingatkah mereka tentang siapa yg menghantar kata padaku tempo itu hingga hatiku mendepak kasar mahkota logika. Logika yang selalu menjaga pandanganku dari sempalan rayu2 semu. Akhiran terpendar, aliran keringat yang berdesir berbuah jawab.
Sebangsa Cleopatra datang, dan betapa mengagumkan, dia menyapa. Apakah engkau ingat suara yg terhantar oleh udara dan hinggap dalam telingamu? Itu suaraku, maaf jika aku menggores tinta terlalu dalam hingga akalmu mencariku, aku membaca matamu, dan matamu yg memanggilku kembali menemui ragamu.
Sempat ku bersaksi tak akan pula terpedaya olehnya jikalah waktu'a belum tiba. Namun keadaan seolah menerkam keengganan ku untuk terus mencari, menggali sebuah kebenaran, mungkin waktu'a telah datang, dan beribu pernyataan lagi dgn kata mungkin hadir menyerang, seakan berbelit bagai benang kusut, menjejal daya pikir, menyesakkan ruang gerak.
Langkahku pagi ini bagai seorang laskar penggema kebingungan, dengan tajam'a lamunan membungkukan pundak sambil tertunduk tanpa jaga. Sesekali menatap kosong ke depan, ditemani lambaian pagi pepohonan, lesung pipi yg mengagumkan dari berjejal gadis pun tak ku balas, dalam mataku kali ini semua'a tawar, hambar tanpa pilar2 penyiku duka.
Sampailah pada tempat yg membuatku memar oleh perkataan. Disini sekarang aku tak diam, aku belajar dari hari kemarin, pelajaran lain dari sekedar lembaran termokimia.
Ku bertanya tentang hari2 lalu pada temanku, ingatkah mereka tentang siapa yg menghantar kata padaku tempo itu hingga hatiku mendepak kasar mahkota logika. Logika yang selalu menjaga pandanganku dari sempalan rayu2 semu. Akhiran terpendar, aliran keringat yang berdesir berbuah jawab.
Sebangsa Cleopatra datang, dan betapa mengagumkan, dia menyapa. Apakah engkau ingat suara yg terhantar oleh udara dan hinggap dalam telingamu? Itu suaraku, maaf jika aku menggores tinta terlalu dalam hingga akalmu mencariku, aku membaca matamu, dan matamu yg memanggilku kembali menemui ragamu.
Komentar
Posting Komentar