Hipolavoitte (part 15)
. . . Kuucap ini tenang maka tak harus kau baca cepat. Lebih baik kau kata ini tak bagus tapi kau lebih dari paham apa maksud setiap belitan kata yang kumaksud. Bawalah dirimu pada keadaan sangat nyaman, saat lantunan suara keanggunan malam lebih kau dengar daripada lantunan kenistaan yang berulang. Bawalah dirimu pada kedamaian abadi seakan kau siap menghadap maut. Karena kekesalan, ketenangan, kecemburuan, kemarahan, hanya akan merubah caramu meninggalkan dunia, tak akan mengubah waktu yang telah ditentukan. Bawalah dirimu pada sesuatu apapun itu yang seakan kau bisa memahami maksud dari apapun yang menyimpan pesan, bahkan apa yang akan terjadi ke depan.
Kurenungi pertengkaran dalam arena luas, lain kata disebut langit. Ku terlamun, betapa padam semangat pejuang perang bila diucap aliran darah'a yang menunggu senyum terpanggang kekejaman panas sang bara. Betapa hilang kuasa seorang khalayak penerus genetika ketika lembut buaian'a dibalas nada tuan yang tak memerdakakan budak. Betapa kerdil seorang terkering luka menghabiskan lautan air mata ditinggal seorang tambatan hati, lahan ia habiskan waktu dalam padang rumput yang penuh semak sehingga ia lupa akan jurang di perhentian pandang. Semula dunia indah namun jauh setelah hari pengadilan terbesar datang, dia tak lagi indah, dan diciptakanlah beribu skenario yang dikata duka dan mungkin, aku, kau, dia dan seluruh makhluk menjadi pemain peran penting terciptanya sebuah kehidupan.
Masih kuterduduk lesu mengakhiri keterpaduan khayal, imajinasi dan permainan. Lain dijauh sana sosok manusia wanita, seumurku, seakan pernah ku bertemu. Kuingat dalam, hingga ku buka mata ia telah berada dalam hadapan. Dia benar, seorang sama dengan mimpiku diawal yang memintaku menjemput setelah kedewasaanku datang, selagi membawa seekor elang yang telah hampir kubunuh. Ku terheran-heran, mengapa ia datang padahal seharusnya aku yang menjemput'a dan kurasa belum kucapai kedewasaan yang ia maksud.
Lantunan indah suara biasa bernada merdu menggelegar dalam ruang gaung. Jangan membalas perkataanku sebelum kuminta. Kau adalah pangeran yang kunantikan dalam kerajaan imajinasiku. Ku telah siapkan singgasana terindah, ku rapihkan setiap hari hingga halusinasi suaramu mempermainkanku untuk mengejar depan gerbang istana,menyambutmu, ternyata bukan dirimu. Ku telah siapkan ruangan indah tempat kita akan memadu kasih, yang jika kau pandang keluar dunia menunjukan luas'a untukmu, ternyata belum terpakai. Ku telah siapkan botol-botol minuman yang akan membuatmu mabuk, tatapmu hilang juga kendalimu kabur saat menatapku, ternyata belum tertuang. Ku tahu isi pikiranmu, kau pikir dirimu belumlah mencapai kedewasaan, kupikir sudah. Kau telah menjalani permainan singkat yang menjadi takdirmu setelah pertemuan mu denganku, ku selalu mengawasimu walau tak kau tahu.Kau hebat, tangguh walau selalu kau tunjukkan kerapuhan yang sangat. Jauh dalam dirimu kau lebih kuat dari apa yang membuatmu terlihat sekedar kuat diluar. Kau mampu mejadi seorang gagah saat mengendalikan emosi. Ketahuilah kendali emosi menaklukan apa yang kau lihat terkuat di dunia. Dengan kendali emosi, tak bisalah kau marah, kau maafkan seorang salah, kau yang mengendalikan dirimu bukan dirimu yang mengendalikanmu. Hingga buktinya kau dapat terlepas dari ragamu. Walau itu tak kau harapkan. Semoga sanjungan ini kau anggap jebakan agar saat kau merasa tersanjung kau terjatuh.
Kau lihat ini? Elang utusanku yang kau bunuh, seorang bayang utusanku telah memojokanmu bukan atas kesalahanmu ini. Ku tak apa, elang yang kau bunuh adalah bayangan yang seakan nyata. Jiwa asli'a lebih kejam. Ia penunjuk jalan yang kau hilangkan, itu arti'a haruslah kau telusuri keberadaanku tanpa jejak darah lagi, sedangkan kemungkinan kepada singgasanaku yang akan segera menjadi istanamu tak berbilang. Gunakanlah kekuatanmu.
Aku yang sekarang adalah aku dalam dunia mimpi. Dalam dunia nyata aku tak seperti ini, akan segera tahu setelah kau temui, dan ingat, bila tak cepat benang merahmu akan segera terputus. Kau akan segera mati karena tak kau temui aku sebagai cinta sejati. Segeralah bangun dan temui aku. Kukata tunggu dan . .
Hah, tenyata aku yang berterbangan ini masih bisa pula tidur, segera kujejalkan kaki pada jalan yang kuanggap benar, cerita belum selesai sebelum kutemui ia benar2 . . .
Kurenungi pertengkaran dalam arena luas, lain kata disebut langit. Ku terlamun, betapa padam semangat pejuang perang bila diucap aliran darah'a yang menunggu senyum terpanggang kekejaman panas sang bara. Betapa hilang kuasa seorang khalayak penerus genetika ketika lembut buaian'a dibalas nada tuan yang tak memerdakakan budak. Betapa kerdil seorang terkering luka menghabiskan lautan air mata ditinggal seorang tambatan hati, lahan ia habiskan waktu dalam padang rumput yang penuh semak sehingga ia lupa akan jurang di perhentian pandang. Semula dunia indah namun jauh setelah hari pengadilan terbesar datang, dia tak lagi indah, dan diciptakanlah beribu skenario yang dikata duka dan mungkin, aku, kau, dia dan seluruh makhluk menjadi pemain peran penting terciptanya sebuah kehidupan.
Masih kuterduduk lesu mengakhiri keterpaduan khayal, imajinasi dan permainan. Lain dijauh sana sosok manusia wanita, seumurku, seakan pernah ku bertemu. Kuingat dalam, hingga ku buka mata ia telah berada dalam hadapan. Dia benar, seorang sama dengan mimpiku diawal yang memintaku menjemput setelah kedewasaanku datang, selagi membawa seekor elang yang telah hampir kubunuh. Ku terheran-heran, mengapa ia datang padahal seharusnya aku yang menjemput'a dan kurasa belum kucapai kedewasaan yang ia maksud.
Lantunan indah suara biasa bernada merdu menggelegar dalam ruang gaung. Jangan membalas perkataanku sebelum kuminta. Kau adalah pangeran yang kunantikan dalam kerajaan imajinasiku. Ku telah siapkan singgasana terindah, ku rapihkan setiap hari hingga halusinasi suaramu mempermainkanku untuk mengejar depan gerbang istana,menyambutmu, ternyata bukan dirimu. Ku telah siapkan ruangan indah tempat kita akan memadu kasih, yang jika kau pandang keluar dunia menunjukan luas'a untukmu, ternyata belum terpakai. Ku telah siapkan botol-botol minuman yang akan membuatmu mabuk, tatapmu hilang juga kendalimu kabur saat menatapku, ternyata belum tertuang. Ku tahu isi pikiranmu, kau pikir dirimu belumlah mencapai kedewasaan, kupikir sudah. Kau telah menjalani permainan singkat yang menjadi takdirmu setelah pertemuan mu denganku, ku selalu mengawasimu walau tak kau tahu.Kau hebat, tangguh walau selalu kau tunjukkan kerapuhan yang sangat. Jauh dalam dirimu kau lebih kuat dari apa yang membuatmu terlihat sekedar kuat diluar. Kau mampu mejadi seorang gagah saat mengendalikan emosi. Ketahuilah kendali emosi menaklukan apa yang kau lihat terkuat di dunia. Dengan kendali emosi, tak bisalah kau marah, kau maafkan seorang salah, kau yang mengendalikan dirimu bukan dirimu yang mengendalikanmu. Hingga buktinya kau dapat terlepas dari ragamu. Walau itu tak kau harapkan. Semoga sanjungan ini kau anggap jebakan agar saat kau merasa tersanjung kau terjatuh.
Kau lihat ini? Elang utusanku yang kau bunuh, seorang bayang utusanku telah memojokanmu bukan atas kesalahanmu ini. Ku tak apa, elang yang kau bunuh adalah bayangan yang seakan nyata. Jiwa asli'a lebih kejam. Ia penunjuk jalan yang kau hilangkan, itu arti'a haruslah kau telusuri keberadaanku tanpa jejak darah lagi, sedangkan kemungkinan kepada singgasanaku yang akan segera menjadi istanamu tak berbilang. Gunakanlah kekuatanmu.
Aku yang sekarang adalah aku dalam dunia mimpi. Dalam dunia nyata aku tak seperti ini, akan segera tahu setelah kau temui, dan ingat, bila tak cepat benang merahmu akan segera terputus. Kau akan segera mati karena tak kau temui aku sebagai cinta sejati. Segeralah bangun dan temui aku. Kukata tunggu dan . .
Hah, tenyata aku yang berterbangan ini masih bisa pula tidur, segera kujejalkan kaki pada jalan yang kuanggap benar, cerita belum selesai sebelum kutemui ia benar2 . . .
Komentar
Posting Komentar