Hipolavoitte (part 12)

Belum ku menepi di rumah, tubuh mendadak berguncang terhilang kendali, entah apakah itu datang'a ajal atau apa, sudah bukan saat lagi bermain kata, mereka sudah bosan, mereka anggap ini kebohongan terhias godaan kata. Mendadak pandangan berubah ungu sekejap, tubuh serasa terpisah dari raga, dan ... kulihat tubuh tergeletak ditengah jalan terakhir ku menghela nafas, sedangkan jiwaku berterbangan, raga dan jiwaku hanya terpisah sebuah benang merah tipis, takut ku terputus. Kebingungan melanda, pikiran memuncak pada rasa panik. Sekumpulan pemuda bergegas menopang tubuhku, ku tetap bingung, apakah ini kematian?? atau berjalannya teori kuantum modern, bahwa benar raga dan jiwa bisa terpisah dan masing2 hidup dalam dimensi berbeda dalam waktu yg sama. Entah tetap bimbang, segera ingin kubersyukur kepada nikmat sebelum hal tak diduga ini terjadi. Aneh'a coba ku menyapa semua orang sekeliling tak satupun bersambut, seakan keadaanku tak ada. Segera kukedip2 mata, apakah ini mimpi?? bukan ini nyata. Ibuku datang menyeruak kerumunan, hingga sekejap semua terdiam. Tak lama dia menangis menjadi, teriakan'a seakan hendak membelah langit, melukiskan kepedihan yg sangat. Kuhampiri dia tetap tak tergubris, malah semakin keras dan terus, memekakan ketenangan langit. Keterduduk pucat menjauh dari kerubungan pilu puluhan orang. Dari jauh sorot mata tajam mendekat lagi tersenyum, segera dia berkata . .. ..

Komentar