Hipolavoitte (Part 9)
Tiba lagi di hari pagi, mataku mulai menjajaki, menyusun kerangka ingatan, setelah jatuh dalam fase alpha, lebih dari berdetik waktu perjalanan aliran air dari hulu menuju muara, lebih dari bermenit tiba'a embun penanda kedatangan surya, lebih dari berjam tapa peronta ilmu. Pula kulumat koloni molekul hidrogen dioksida dalam takaran kasar, hingga tak terbilang lagi dahaga. Langkah ke sembilan sekembalinya aku pada kesadaran, hinggaplah pandang pada burung parkit, tergantung manis di ujung pintu ruang puncak pikir. Kawan pelaras nada, penghilang senyap, peredam emosi kala tersedak keadaan. Senda gurau sambil kujentikan jemariku yg telapak'a selalu basah, mungkin karena penyakit, atau sebuah pertanda yg belum kubaca.
Kutolehkan pandang menembus benda bening bernama jendela, akomodasi tak maksimum membuat jarak pandangku tak terhingga, dan waw,, bunga desa impian pria sepanjang jalan mememerkan keelokan wajah'a, nyaris tanpa cela, hanya saja keanggunan'a dihiasi garis hawar kecut, pesona'a hambar, cantik'a hilang dikedua mata. Akibat buruk dari permainan setiap kegelapan datang. Dialah penjaja cinta, kembang yg indah namun terlanjur penuh noda.
Segera kuhentikan gunjingan monolog, selagi hari tak perlu bertemu pengajar, tak ada kerja kucuri start hingga 2 bab kedepan terjamah, apa mau dikata pena berjalan menghabiskan keperawanan tumpukan kertas, waktu mainku terlahap angka pembuat pegal, mengobral tenaga demi sebuah tujuan, kemakmuran di masa depan. Daripada sama ku bermain dengan mereka lebih banyak, maka tak akan banyak beda dengan mereka. Maukah sama kita yg malas dengan tujuan luhur melawan mereka yg mengagungkan kebodohan sedari awal dengan akhiran yg sama. Sebuah semboyan buatan obat kemalasan. Dengan membunuh kemalasan, siulanmu pun menggoda, tanpa harus tersedu2 bagai telenovela.
Kutolehkan pandang menembus benda bening bernama jendela, akomodasi tak maksimum membuat jarak pandangku tak terhingga, dan waw,, bunga desa impian pria sepanjang jalan mememerkan keelokan wajah'a, nyaris tanpa cela, hanya saja keanggunan'a dihiasi garis hawar kecut, pesona'a hambar, cantik'a hilang dikedua mata. Akibat buruk dari permainan setiap kegelapan datang. Dialah penjaja cinta, kembang yg indah namun terlanjur penuh noda.
Segera kuhentikan gunjingan monolog, selagi hari tak perlu bertemu pengajar, tak ada kerja kucuri start hingga 2 bab kedepan terjamah, apa mau dikata pena berjalan menghabiskan keperawanan tumpukan kertas, waktu mainku terlahap angka pembuat pegal, mengobral tenaga demi sebuah tujuan, kemakmuran di masa depan. Daripada sama ku bermain dengan mereka lebih banyak, maka tak akan banyak beda dengan mereka. Maukah sama kita yg malas dengan tujuan luhur melawan mereka yg mengagungkan kebodohan sedari awal dengan akhiran yg sama. Sebuah semboyan buatan obat kemalasan. Dengan membunuh kemalasan, siulanmu pun menggoda, tanpa harus tersedu2 bagai telenovela.
Komentar
Posting Komentar