Hipolavoitte (part 11)

Lagi kuambil langkah tanpa tuju, sehabis terkesima atas sapuan kata-kata pembual makna hingga tak kedip. Menuju batas terang pengiring nadi, penawar haru, pelipur kemelut antara seorang tak temu dengan singgasana maha perindu. Seorang akan datang namun tak berkata benar atas kebohongan berencana.Kebohongan yg meluap menjadi kejujuran pelega dan pengundang senyum. Tak hingga 2 jam kumenunggu dipersimpangan tanpa haluan, sebuah tepukan kilat menyambar, berbalik kuberbalas. Gadis ayu tersenyum manja, mengundang birahi berlebih bagi pecandu bayang nafsu, tidak terlalu bagiku, tak munafik lain naif. Buaian nafas'a melayang bebas dalam udara, layak'a sekelumit pesan tak biasa. Tatap'a tajam dalam, seakan hendak mencengkram ulu hati yg berdebar bagai kejut hantar aliran elektron. Dia coba merayap masuk dalam dunia seorang pecundang, pecundang yg menahan kepengecutan'a demi keperkasaan di lain hari. Awal lontaran kata biasa, lama wajah merah'a menular, dibuntuti pertanyaan seakan membuat terus tenggelam dalam, hingga tekekang baka lalu tersungkur. Segera ia kubuat buntu dengan hentakan tanpa kata. Ternyata ia teman semasa kecil dulu. Lama ku tertawa, pula memeluk haru. Seorang penoda takdir dalam jalan berkelok. Pengais tawa dari sembulan kata pria peneliti molekul mikro ketika kecil. Ingat ia kata ingin menjadi pahlawan bagi tiap orang, sekarang ia berjubah putih, lambang ketulusan dari sekedar pahlawan. Dia berkata, tak pula seorang berkata akan cita-citanya hingga ia lupa akan jalan yg harus ia terjang, tak mungkin pula cita setinggi langit pula tercapai andai ratusan orang menolong dan engkau tak menolong diri, lain pula seorang tak akan bekerja mengetahui perjalanan terjalmu, melainkan hasil dari jalan terjalmu, engkau tak punya pilihan. Jalan terjalmu itu jalan menuju citamu sendiri yg tinggi. Menjulang mencakar langit yg tampak renta. Pergunjingan tentang kehidupan yg membangunkan kelalaian dari tidur'a yg panjang. Perjumpaan yg berarti lagi berguna. Ada cita dibalik cinta. Kejar cinta maka cita pergi berlari, bila kau tak peka menjaga, maka ia berlari menjauh bersama. Kejar cita maka cinta mengejarmu. Kedua'a kau dapat dengan satu tujuan. Salah satu dari tak limit ciri sang melankolis,,,

Komentar