Hipolavoitte (part 3)
Hari beranjak, kian tak mengerti apalah arti sesosok paras elok dalam mimpi itu adalah dia sang bisik merdu, ataukah saat terlelap kala itu hanyalah bunga tidur pelipur sepi bagai perantau meneguk anggur, dalam perjalanan melintas fatamorgana dalam asa, bisa pula tak benar ada kaitan antara mimpi dan sapaan penguat penasaran.
Sesaat dalam tempat yg sama ketika nyanyian buta itu mengiang, skenario yang sama coba kurangkai, kubuka lembar demi lembar ilmu mekanika kuantum, lagi bersiaga menanti datang'a sinar matahari yg kemarin datang, sinar dengan pemberi harapan, penggetar nadi, pembakar kegelapan menjadi tabir penegak makhluk sang kuasa dalam dimensi yang kita lalui.
Lalu lalang gadis berwajah manis, baru kali ini kuperhatikan, semua terasa manis karena aku percaya makhluk tuhan tak satupun tercipta pahit, melainkan hanya manusia yang dapat menciptakan kepahitan, melalui lisan, kata, pikiran atas apa yg dia rasakan melalui indra tak sempurna. Manipulasi pikiran telah menguasai kita sebagai makhluk lemah, dan itu akan terus berlangsung. Padahal kita semua tercipta sama, dengan tangis, tanpa sehelai kain pula.
Detik demi detik sapaan itu tak berulang, kunanti hingga rangkaian detik yg kulalui melumat surya. Senja datang pula, tetap tak ada, hendak beranjak pun enggan. Dengan ancaman layar nyata seolah meredup. Akhirnya ku tertegak, segera bergegas kembali pulang. Tersenyum penuh pengharapan untuk menemukan penegak kuduk, pula tersadar bahwa yg semua kita harapkan terwujud dari hasil usaha yang kita lakukan. Esok, akan kucari dia dengan langkah. Tidak hanya dengan harap.
Sesaat dalam tempat yg sama ketika nyanyian buta itu mengiang, skenario yang sama coba kurangkai, kubuka lembar demi lembar ilmu mekanika kuantum, lagi bersiaga menanti datang'a sinar matahari yg kemarin datang, sinar dengan pemberi harapan, penggetar nadi, pembakar kegelapan menjadi tabir penegak makhluk sang kuasa dalam dimensi yang kita lalui.
Lalu lalang gadis berwajah manis, baru kali ini kuperhatikan, semua terasa manis karena aku percaya makhluk tuhan tak satupun tercipta pahit, melainkan hanya manusia yang dapat menciptakan kepahitan, melalui lisan, kata, pikiran atas apa yg dia rasakan melalui indra tak sempurna. Manipulasi pikiran telah menguasai kita sebagai makhluk lemah, dan itu akan terus berlangsung. Padahal kita semua tercipta sama, dengan tangis, tanpa sehelai kain pula.
Detik demi detik sapaan itu tak berulang, kunanti hingga rangkaian detik yg kulalui melumat surya. Senja datang pula, tetap tak ada, hendak beranjak pun enggan. Dengan ancaman layar nyata seolah meredup. Akhirnya ku tertegak, segera bergegas kembali pulang. Tersenyum penuh pengharapan untuk menemukan penegak kuduk, pula tersadar bahwa yg semua kita harapkan terwujud dari hasil usaha yang kita lakukan. Esok, akan kucari dia dengan langkah. Tidak hanya dengan harap.
Komentar
Posting Komentar