Hipolavoitte (part 17)
. . . Engkau benar seorang yang tak bisa kukatakan siapa, setelah sekian lama kedatanganmu kutunggu, namun dihadapanmu aku takluk. Memang benar dirimu bukan terlahir sebagai ksatria yang harus berlaga dalam medan perang, Lebih dari itu. Tujuanmu sekarang berbeda setelah seakan-akan kau akan mengentaskan tujuan pada akhiran yang sempurna. Itu semua jauh tak sama. Terlalu tak berarti sepertimu hanya mengejar apa yang akan kau kira berakhiran indah, dan seisi dunia tak mengenangmu. Lebih baik segera pergi tinggalkan aku, sesuatu yang lagi2 tak bisa kukatakan telah menunggu. Dikata seorang tua yang kenikmatan pandang'a telah terhilang.
Segera kuberalih darinya sambil mengendap bimbang, antara apa yang telah dia kata dengan apa yang harus aku lakukan. Antara jeda pikir dengan rusuh tindak. Kulupakan sejenak bualan2 penambah bingung. Kuputuskan melahap sisa perantauan. Mengejar titah hati menaklukkan cinta yang dikata orang buta, berjuta rasa, hangat, dan semua yang membuat lengah pada keesaan Sang Kuasa.
Tersampai pada sebuah tempat dimana tak ada jejal setiap orang yang terasa menutup ruang gerak. Kumainkan tubuh membelah udara, menggerak bagian siku yang terbeban kaku. Selama ditimpa hujan perumpamaan. Terlantunlah sebuah nyanyian indah di ujung jalan, menghentikan gerak sepintas, menuntut pendengaran menyimak benar. Suara itu seakan terus memanggil, membuat kendali diri terkekang halus. Hinggaplah akhir pada sumber lantunan nada. Kuingat seluruh bait'a. Jiwa seseorang berterbangan, melawan ketakutan karena tak lagi ada batas. Pertikaian antara kehidupan pada puncak'a namun setiap langkahnya adalah ketidakpastian. Naas nian, haruslah kubawa dia segera pada akhir tujuan. Tak ada beda istimewa dari kata tadi selain pesan'a. Tak lagi bicara setelah ia kudatangi, gerak mata'a menuntun laju pada jalan lurus. Terus membuat ku tak bisa menghentikan langkah. Dia tak memberi isyarat, selain menunjukkan sebuah ujung tempat. Sedari awal mengapa semua bagai terencana, apa ini berupa mimpi. Ku merasa hanya dipermainkan oleh adegan tanpa naskah. Bagaimana tidak, sebagai variabel terikat aku hanya dipermainkan variabel kontrol yang selalu datang sendiri tanpa kucari. Tak ada perlawanan berarti. Akhirnya tiba pada sebuah . . .
Segera kuberalih darinya sambil mengendap bimbang, antara apa yang telah dia kata dengan apa yang harus aku lakukan. Antara jeda pikir dengan rusuh tindak. Kulupakan sejenak bualan2 penambah bingung. Kuputuskan melahap sisa perantauan. Mengejar titah hati menaklukkan cinta yang dikata orang buta, berjuta rasa, hangat, dan semua yang membuat lengah pada keesaan Sang Kuasa.
Tersampai pada sebuah tempat dimana tak ada jejal setiap orang yang terasa menutup ruang gerak. Kumainkan tubuh membelah udara, menggerak bagian siku yang terbeban kaku. Selama ditimpa hujan perumpamaan. Terlantunlah sebuah nyanyian indah di ujung jalan, menghentikan gerak sepintas, menuntut pendengaran menyimak benar. Suara itu seakan terus memanggil, membuat kendali diri terkekang halus. Hinggaplah akhir pada sumber lantunan nada. Kuingat seluruh bait'a. Jiwa seseorang berterbangan, melawan ketakutan karena tak lagi ada batas. Pertikaian antara kehidupan pada puncak'a namun setiap langkahnya adalah ketidakpastian. Naas nian, haruslah kubawa dia segera pada akhir tujuan. Tak ada beda istimewa dari kata tadi selain pesan'a. Tak lagi bicara setelah ia kudatangi, gerak mata'a menuntun laju pada jalan lurus. Terus membuat ku tak bisa menghentikan langkah. Dia tak memberi isyarat, selain menunjukkan sebuah ujung tempat. Sedari awal mengapa semua bagai terencana, apa ini berupa mimpi. Ku merasa hanya dipermainkan oleh adegan tanpa naskah. Bagaimana tidak, sebagai variabel terikat aku hanya dipermainkan variabel kontrol yang selalu datang sendiri tanpa kucari. Tak ada perlawanan berarti. Akhirnya tiba pada sebuah . . .
Komentar
Posting Komentar