Hipolavoitte (part 16)

. . . Belum tersadar benar. Baru terbuka daya hantar mata menuju keterbukaan hati setelah kulihat catatan setiap orang yang berliku-liku atas perjalanan yang sedari awal diharap akan berakhir dengan kesempurnaan. Sebenarnya mereka berjudi lalu mereka menyesal setelah kehilangan semua. Beruntunglah bila dengan pertaruhan itu anda menang dan jadi jutawan cinta. Haha, bualan munafik hasil induksi kesendirian. Bagaimana tidak? Kesendirian itu membawa ketidakmungkinan menjadi kenyataan. Kalimat itu indah untuk penderitanya. Namun tak kubiarkan itu jadi pelarut dalam larutan kekhawatiran, pertarungan dua akhiran akan kucari, setelah satu dari dua awalan terbuka jalan'a karena telah dibukakan kunci oleh pembuat kebingungan. Dia teriakan dalam2 hingga aku tertegun. Tak jenuh pula bosan. Sebuah hadiah yang biasa ku dapat dari selainnya. Namun, tak sejanggal ini.
Bukan itu pembuat bimbang kali ini, melainkan warna benang merah itu tak sama gelap'a dengan hari2 kemarin. Pudar'a baru terasa. Pertanda tak menyenangkan. Tanda yang kubaca berarti harus lebih cepat kutemukan penawar'a.
Jalan yang kulewati sekarang dikata orang sembarang dengar sabana. Tinggi semak'a menyiksa jangkau mata memburu kebenaran. Langkah2 yang kulalui disertai perlawanan kedua lengan terhadap mereka yang menghalang jejak. Terus membelah tujuan hingga seluruh tubuh peluh oleh butir ikatan bentuk sudut. Hendak singgah bak sinar bersambut. Sebuah gubuk dengan tangga lawas menjulang dengan kaki2a membawahi semak pensesat. Mungkin pemilik'a sedang singgah disana, akhirnya kuturuti kata hati untuk menaiki anak tangga hingga tiba pada puncak gubuk. Kulihat sekeliling tak biasa, selingan bambu terukir halus, terasa sejuk berdiri di atas'a, membuat kata syukur akan kehidupan terus kulafalkan. Seorang dari belakang arah tubuhku terdengar menyahut, dia seorang nenek tua, yang dari mata'a terlihat ketidakjujuran adalah musuh baginya, mata'a semakin dalam menelisik masuk, kubiarkan dia membaca pikiran dan hatiku dalam2. Segera dia memalingkan wajah terlihat tak akomodasi.
Kemudian dia mulai dendangkan yang kudengar bagai syair seorang pujangga. Hai pemuda, aku tak bisa melihatmu. Aku buta, tapi ku bisa merasakan, membaca pikiran dan hatimu. Dari langkah, helaan nafas, hawa disekitarmu dan semua yang tak perlu banyak kau tahu. Meskipun engkau tak mengikusertakan ragamu benar? Aku adalah cermin bagi siapapun yang menatapku maka tak ada yang tidak kutahu tentang seorang yang menjadikanku bayangannya. Kau relakan isi dirimu kubaca, biar kuberpikir sejenak untuk membaca'a lagi, tenangkanlah dirimu. Ditengah serangan kata'a tadi, betapa ku terkagum terhadap'a, manalah ada seorang seperti dia, cermin kehidupan yang bisa menjawab pertanyaan sumber bayang'a. Walaupun pertanyaan itu tak terlontarkan. Tak lama ia lagi berkata. Tak usah kau begitu memujaku, aku bukan Tuhan, itu sebagian dari syirik, aku disini atas kuasa Tuhan. Bahkan pikiran selintaskupun terbaca. Dia kembali memulai perkataan'a. Hmmm, engkau memiliki kekuatan yang hebat, sebuah kematangan bawaan, kekuatan yang belum kutemu ungkapan'a yang tepat, baru kutemukan lagi sama setelah 73 tahun. Aku dan banyak orang telah lama mencarimu. Tak lama ia kembali terdiam dan menangis. Tak tahu ku mengapa, tak kubergeming sedari tadi. Tiba2 dia memecah tangis'a. Engkau, engkau, benar engkau, . . .

Komentar