Hipolavoitte (part 18)

. . . Hingga tibalah aku pada sebuah istana, pengantarku menunjukan kemegahan'a. Kebenaran tak pernah menunjukkan jalan mudah. Sering dalam dimensi keempat yang melaju, perdebatan antara aku dan rusuk yang hilang begitu ramai. Dalam ruang itu, kejujuran akan mengalir dengan sendirinya.
Belum sempat mengakhiri langkah, gadis cantik dengan lesung pipi memancarkan cahaya membius seketika. Wajahku tak rupa hanya menganga sempat hilang kata. Kurenggut kepalan tangan'a. Berakhirlah semua, inikah jalannya. Perjalanan melelahkan.
Tak lama benang merah itu hilang dan aku bisa merasakan kembali ragaku yang terkaku jauh. Istana ini adalah sebuah ujung perantauan pelahir senyum.
Semula akan terasa indah, tak sampai lama semua berubah. Langit mendadak menunjukkan kemarahan, lewat lembayung merah. Suasana semua mencekam. Helaan nafas ku dengan'a jauh lebih keras. Sekeras dentum guntur pengiring badai. Kupikir semua karenaku, maka tak ada niat menuju peneduh, terkecuali mengantarkannya pada bawah atap gemerlap.
Lelaki gagah tadi berteriak memanggilku, sorot mata'a berubah merah. Memendah amarah mengepalkan tangan lagi mendekatiku. Tak jauh lebih dekat dari satu hasta. Kami saling balas pandang. Dia berkata, Aku yang telah mengatur kedatanganmu. Dari mulai kau terlepas dari raga, aku memerintahkan prajuritku, sebagaimanapun kau harus berhadapan denganku, ialah sesosok bayang pengantarmu, gadis dalam mimpimu, garuda yang kau hendak bunuh. Maka sekarang kau adalah penghuni bumi yang harus segera kulenyapkan. Ketahuilah jauh dalam dirimu kau menyimpan kekuatan sepertiku. Kau hanya terlihat lemah diluar, kau memang bodoh, ingatkah ketika kau mengendalikan langit saat kau tertindas suatu hari? Lebih dari itu bisa kau arungi dimensi seketika, puncak kepuasan dunia. Dan jika kau tak ada maka seluruh isi semesta akan tunduk padaku seluruh. Kita saudara satu ayah, ayah kita pewaris kunci semesta. Dia wariskan itu pada kita berdua. Lebih baik kumiliki semua itu daripada dirimu tak guna.
Kujawab dengan terpicing mata. Maka hancurlah dunia karenamu, Tuhan tak membiarkan hamba-Nya melebihi kuasa dibawah pengawasan-Nya. Tak akan kubiarkan itu terjadi, tugasku menjaga kesinambungan bumi. Biarlah kuterlihat lemah dilain sisi membuat selainku gagah terasal dia selalu ingat pada Sang Kuasa. Walaupun kau saudara sekandung ayah atau apa yang harus kupercaya darimu. Segera hentikan sebelum Penciptamu memberi azab teramat pedih. Buat bulan dan Matahari berdampingan jika kau mampu.
Terlihat amarah makin memuncak, hebat'a tak ada kepalan tangan pemuas nafsu terlayang. Hanya angin berputar menjadi, merah langit terus berbuih, membuat berduyun manusia kebingungan.
Gadis tadi tak lama berkata sedari jauh pada kami. Penggabungan dua kekuatan kalian adalah benar. Tak lagi berarti selain dari kalian mati.
Saudara kandungku tak berhenti, dia serang . . .

Komentar