Hey,, it's the real "Chemistry war" definition (poet version)
Terlelap, hingga nyenyak teresak tak terasa udara menikam, memberi kehidupan. Terbangun dari astral bukan dikata khalayak. Menguliti tawa kebohongan, hingga sang naif dan maha munafik berjalan beriringan beradu peran. Dan bodoh'a aku pernah tertipu dalam hingga tak lagi riak. Diam terkekang kenistaan penawar senyum. Ketidaktulusan adalah puncak indah perangai peran. Lagipula itu adalah lalu, kini tinggal tiupan kenang. Semilir'a bagai tetesan jarum tumpul. Penawar sakit adalah dendam abadi, keabadian adalah milik ilmu alam, tak salah rasa sulit tak lagi halang. Sains adalah fakta'a. Seorang tanpa obsesi hanya berkata tidak, itu sulit. Seorang dengan aroma dendam berkata, itu tak lebih sulit dari merasakan sakit tanpa penawar, biar naluri amarahku mengalir seiring irama alam pikir. Perpaduan tersulut merah, tak lagi panas. Laksana radiasi fusi matahari. Tak setitik pun dari galaksi. Namun hadir'a bagai gelora senyawa oksida dalam udara. Malam, Pengantar tidur berubah jadi jurang penentas, tak ada kantuk, mata hanya tertuju pada kilauan angka tak rapi, menguliti persamaan linear, menggores keabsahan eksponen. Meradang pula mendendang periodik, merujuk mol, merekatkan kumpulan rumus hingga bakal lama sealiran dengan darah, seuntai nafas, seuntai aliran nafas. Menyusun lusinan karakter semu. Menuju kontrak tak terbantahkan dengan semesta agar kuungkap segala rahasia. Siang tak lagi terang, cahaya hanya ku anggap sandiwara karena pandanganku terhadap dia sang pemicu perang, . . Bagai Fatamorgana. Walau indah tak berbayang. Bekas'a hanya noda, jikalau bisa diperkasar adalah virus bandel tanpa beri antibodi.
Hingga harap saat'a tiba di alam bawah sadar terjawab semua kata sulit bagi selainku. Rasa sulit bagi'a dan semua orang. Sambil sombong'a dengan tutup mata ku bisa, sedangkan dengan keringat mereka menganga, khususnya dia pengumbar luka. Sayang'a aku lebih menghargai kerendahan hati, kesombongan itu sebagian dariku tapi selagi sadar tak akan ku tunjukkan. Tak ada sesal darimu yang kubalas maaf, kecuali kau menemukan alasan ke satu juta. Bukankah itu harapan? Merintis awal ilmu penakluk haru. Suatu hari, aku buat semua menangis. Mengelukan kedamaian, bersyukur atas karuniaNya. Mengenang keberadaanku. Ialah karena ledakan ilmu. Termasuk ia perekah dendam. Mengapa kusuka kepastian, keabadian, kelihaian. Eksakta. Itulah dendam. Itulah demam. Itulah maniak. itulah fanatik. itulah perang. Maka itulah "chemistry war".
by : Maniac Of CHemistry
Hingga harap saat'a tiba di alam bawah sadar terjawab semua kata sulit bagi selainku. Rasa sulit bagi'a dan semua orang. Sambil sombong'a dengan tutup mata ku bisa, sedangkan dengan keringat mereka menganga, khususnya dia pengumbar luka. Sayang'a aku lebih menghargai kerendahan hati, kesombongan itu sebagian dariku tapi selagi sadar tak akan ku tunjukkan. Tak ada sesal darimu yang kubalas maaf, kecuali kau menemukan alasan ke satu juta. Bukankah itu harapan? Merintis awal ilmu penakluk haru. Suatu hari, aku buat semua menangis. Mengelukan kedamaian, bersyukur atas karuniaNya. Mengenang keberadaanku. Ialah karena ledakan ilmu. Termasuk ia perekah dendam. Mengapa kusuka kepastian, keabadian, kelihaian. Eksakta. Itulah dendam. Itulah demam. Itulah maniak. itulah fanatik. itulah perang. Maka itulah "chemistry war".
by : Maniac Of CHemistry
Komentar
Posting Komentar