#10 - E/F
Review
Ini zaman bahasa gue lagi berat-beratnya nih, masih sedikit agak alay sih nulisnya, tapi buat menjaga orginalitas gak gue edit tulisannya. Masih agak polos juga belum bisa bedain mana seorang yang tulus dan penipu, seorang yang jujur atau pengkhianat. Gue dengan polosnya waktu itu mikir, kalau udah cinta ya gak ada alesan dong buat berpisah. Gue gak tau kalau waktu itu linear dan ada ego yang terus tumbuh. Mungkin gue mikir dulu romeo dan juliet itu nyata ya. Nyatanya cinta permainan emosi yang harus terus dibuat haus dan mati ketika dibuat karam.
Masih ingat dengan C/D atau A/B? Mereka bagian dari seseorang dengan rayuan mematikan, kalo ga percaya silahkan browse notes saya yg sebelum'a, untuk anda berikut'a silahkan nikmati jamuan kata E/F. (Ini hanya sekedar permainan kata", salah satu cara meletakkan sebuah keindahan dalam tempat'a, jika tak begitu tertarik silahkan tutup halaman ini)
E:Kau adalah karya seni Tuhan terindah dalam kejap. KuasaNya membuatmu berjejal diantara sekawanan karya semacam, namun tetap kau pemincing mata terkuat. Sekuat ragaku menahan rongga hati tetap berkelakar teredam dominasi ego. Berwujud teriakan hening entah. Tak seorang dengar. Kurasa menegurmu saja seperti mengganggu seorang bidadari yang tersesat dalam lantunan nyanyian'a, terdengar lirih menengadah padaNya agar dikembalikan pada ladang keindahan tanpa batas. Kau meminta dilarikan ditengah buritan senja. Aku tergesa jatuh menghujat alam segeralah hantarkan harap, pada KuasaNya. Biarkan kau bersamaku sebelum kau bisa kembalikan retakan jiwaku yang menganga. Dengan hatimu yang terbuat dari goresan kaca. Biarpun terus terbuka penuh luka setidaknya kau ada disisi makin menyiksa dengan senyuman sandiwara manja penikmat luka.(cewek sekarang gak akan luluh dengan kata-kata kayak gini. Gue malah pengen hidup zaman dulu, saat seorang laki-laki dengan tulisan tangannya meyakinkan seoarang wanita dengan tulisannya. Mereka menahan rindu, malu-malu, hingga ketulusan itu terjaga sampe kakek nenek. Cuma gue yang mikir gitu gak ya?)
F:Saya adalah seorang penikmat postulat. Pecandu persamaan dua ruas. Diturunkan dua hal berlawanan sebagai ladang renungan dariNya dalam bentuk perbandingan. Diciptakan sesuatu berpasangan sebagai hasil kreasiNya dalam bentuk perpaduan. Kalau benar kita harus bersatu, sepatah katapun tak perlu. Lebih" sebuah senyuman. Tindak kita dalam dunia hanya berupa penegasan keberadaan. Namun, keindahan sesungguhnya ketika aku diam lalu saya tertegun dan mendapat bisikanNya untuk mengenalmu. Cinta tumbuh cepat beriringan dengan ketidakberadaan, berhamburan meluapkan rasa rindu. Kenalilah diriNya dalam, suatu hari aku akan kembali datang mengemuka. Mendengar kesaksianmu. Biarkan aku terlelap dalam dengkuran postulat sejenak. Keabadian sesuatu yang lebih pasti untuk dicari dari sekedar sesuatu yang telah ditentukan.(kata-kata gue disini kalo ikut pikiran gue dulu nih, kayaknya bukan buat diartiin. Tapi untuk dimaknai lebih dalam bahwa cinta itu indah jika diungkapkan, ditempatkan dan ada pada waktu yang tepat.)
Ini zaman bahasa gue lagi berat-beratnya nih, masih sedikit agak alay sih nulisnya, tapi buat menjaga orginalitas gak gue edit tulisannya. Masih agak polos juga belum bisa bedain mana seorang yang tulus dan penipu, seorang yang jujur atau pengkhianat. Gue dengan polosnya waktu itu mikir, kalau udah cinta ya gak ada alesan dong buat berpisah. Gue gak tau kalau waktu itu linear dan ada ego yang terus tumbuh. Mungkin gue mikir dulu romeo dan juliet itu nyata ya. Nyatanya cinta permainan emosi yang harus terus dibuat haus dan mati ketika dibuat karam.
Masih ingat dengan C/D atau A/B? Mereka bagian dari seseorang dengan rayuan mematikan, kalo ga percaya silahkan browse notes saya yg sebelum'a, untuk anda berikut'a silahkan nikmati jamuan kata E/F. (Ini hanya sekedar permainan kata", salah satu cara meletakkan sebuah keindahan dalam tempat'a, jika tak begitu tertarik silahkan tutup halaman ini)
E:Kau adalah karya seni Tuhan terindah dalam kejap. KuasaNya membuatmu berjejal diantara sekawanan karya semacam, namun tetap kau pemincing mata terkuat. Sekuat ragaku menahan rongga hati tetap berkelakar teredam dominasi ego. Berwujud teriakan hening entah. Tak seorang dengar. Kurasa menegurmu saja seperti mengganggu seorang bidadari yang tersesat dalam lantunan nyanyian'a, terdengar lirih menengadah padaNya agar dikembalikan pada ladang keindahan tanpa batas. Kau meminta dilarikan ditengah buritan senja. Aku tergesa jatuh menghujat alam segeralah hantarkan harap, pada KuasaNya. Biarkan kau bersamaku sebelum kau bisa kembalikan retakan jiwaku yang menganga. Dengan hatimu yang terbuat dari goresan kaca. Biarpun terus terbuka penuh luka setidaknya kau ada disisi makin menyiksa dengan senyuman sandiwara manja penikmat luka.(cewek sekarang gak akan luluh dengan kata-kata kayak gini. Gue malah pengen hidup zaman dulu, saat seorang laki-laki dengan tulisan tangannya meyakinkan seoarang wanita dengan tulisannya. Mereka menahan rindu, malu-malu, hingga ketulusan itu terjaga sampe kakek nenek. Cuma gue yang mikir gitu gak ya?)
F:Saya adalah seorang penikmat postulat. Pecandu persamaan dua ruas. Diturunkan dua hal berlawanan sebagai ladang renungan dariNya dalam bentuk perbandingan. Diciptakan sesuatu berpasangan sebagai hasil kreasiNya dalam bentuk perpaduan. Kalau benar kita harus bersatu, sepatah katapun tak perlu. Lebih" sebuah senyuman. Tindak kita dalam dunia hanya berupa penegasan keberadaan. Namun, keindahan sesungguhnya ketika aku diam lalu saya tertegun dan mendapat bisikanNya untuk mengenalmu. Cinta tumbuh cepat beriringan dengan ketidakberadaan, berhamburan meluapkan rasa rindu. Kenalilah diriNya dalam, suatu hari aku akan kembali datang mengemuka. Mendengar kesaksianmu. Biarkan aku terlelap dalam dengkuran postulat sejenak. Keabadian sesuatu yang lebih pasti untuk dicari dari sekedar sesuatu yang telah ditentukan.(kata-kata gue disini kalo ikut pikiran gue dulu nih, kayaknya bukan buat diartiin. Tapi untuk dimaknai lebih dalam bahwa cinta itu indah jika diungkapkan, ditempatkan dan ada pada waktu yang tepat.)
Komentar
Posting Komentar