Ibu, ini penggantimu
Tulisan ini bertintakan ketakjuban saya terhadap kuasaNya

Terlahir sempurna lalu mempertemukan aku denganmu
Berdasarkan pertemuanku dengan cerita diriku sendiri di hari kemudian
Saya akan bertemu denganmu dihari saat saya benar" telah mengenal dan mengalahkan diri saya sendiri. Diriku disaat itu mengenalkan padaku tentang dirinya. Engkau adalah baik, titisan air matamu memanggilku kemudian. Mereka bersaksi padaNya agar dengan benar aku bertemu denganmu. Itu terjadi, aku dan kamu bahagia. Disaat ini kita tak saling mengenal. Pertemuan kita adalah keindahanNya mengatur peran hambaNya bermain peran. Laga"ku sekarang berupa benih pencarian jati diri. Menuju dirimu yang tentu belum kutahu. Di saat itu suatu hari aku pulang dan berkata. Mana teh manis'a, sudahkah kau tuangkan cinta ke dalam'a. Ah itu berlebihan.
Mengingatmu aku teringat ketika kecil dikala ibuku dengan segala yang dimiliki'a, menyambut ayah dengan senyum dan kopi hangat. Ayahku bercerita tentang keluh kesah'a selama di kantor. Ibuku terlihat dengan seksama mendengar. Aku hanya di hadapan dengan sejuta kepolosan. Teringat ibuku sering mengingatkanku. Hati", jangan ini, jangan itu, keluguanku berontak ingin kebebasan, hentikan ocehanmu bu. Beranjak dewasa aku mulai lupa cara bermain dengan bebas tanpa beban, aku mulai lupa tentang diriku yang lugu. Aku mulai mengerti. Aku sadar ibuku membuatku berdiri, berjalan, menggapai. Aku sadar segala'a tentang kebaikan ibu, kemarahan ibu adalah ketaatan'a menjaga amanatNya. Ibu mendengar, ibu merasakan, ibu menjaga. Hingga saat ini dalam tatapan'a ia terasa mendekap, menguatkanku akan berbagai hal, menyemangati dengan kepalan tangan'a menggenggam erat.
Dia diriku berkata bahwa Ibuku akan berkata di kemudian, engkau telah menjadi apa sesuai keinginanmu, sekarang mana dia pengganti ibu, bawa dia kemari, ibu ingin mengenal'a, dia harus bisa menggantikan dekapan ibu untukmu, dia harus bisa mengalahkan sayangnya ibu untukmu. Disitu aku tentu terharu dan mendekap ibu. Menangis sejadi-jadi'a. Dalam dekapan'a aku berkata, maafkan anakmu ini bu, anak laki" terbesarmu yang kau kuatkan sedari kecil ini menangis, aku sangat menyayangimu bu, entah apa dia akan bisa menggantikanmu kelak. Mengerti apa duka, penyembuh luka, pendekap hangat, pemasak sarapan, senyumnya, apakah semua bisa menggantikanmu.
Ibuku lalu berkata, biar jodoh Dia yang mengatur, jalani saja, dia yang terbaik. Percayalah, segala yang telah kau berikan telah membuat ibu bangga. Ibu yakin, dengan kesungguhanmu menjadi yang terbaik bagi ibu sekarang, kau telah membuktikan banyak hal, pasanganmu kelak akan menjadi ibu yang baik bagi anak"mu, melebihi sayangnya ibu terhadapmu. Sayangilah dia dengan caramu, dalam kekurangan kalian saling melengkapi. Kalian akan membangun sebuah kerajaan, ciptakan lah pewaris terbaik. Mungkin anakmu akan menjadi seorang dokter, cita" ibu untukmu yang tak bisa kau kabulkan. Dalam samudra air mata kami terus terlarut dalam kesaksian tentang ibuku yang ingin ku berdampingan dengan seorang yang benar.
Selang beberapa bulan, aku datang lagi. Aku membawa dirimu. Sosok dambaan ibu, pengisi periode kedua. Ketika ku datang aku berkata, ibu ini penggantimu. Ibuku terlihat menatap'a dalam, kau terlihat menunduk malu. Ibuku coba mendekatimu. Menegakkan kepalamu. Lalu mendekapmu dengan menangis sejadi'a. Ibu berkata kepadaku sambil tetap mendekapmu. Kau telah menemukan orang yang telah menyayangimu. Bagaimana bisa kau dapatkan dia. Aku menjawab, Mata'a berbicara kepadaku bawa dia mengenal ibu. Sontak setelah aku telah berkata itu kedua perempuan terhebat dalam hidupku itu pun menangis. Aku pun mendekap kedua'a. Aku berkata, Aku ada karena dan untuk kalian. Ibu kasih petuah yah dia, agar bisa mendidik anak'a menjadi dokter, bukan anak yang keras sepertiku. Akhir'a pertemuan itu awal dari masa transisi kehidupanku. Teruntuk engkau disana. Garis telah menetapkanmu. Aku disana kelak akan ada dengan segala kekuranganku, dan segala usahaku menjadi sesuatu untukmu. Satu permintaanku, jadilah ibu yang baik untuk anak"mu kelak. Seperti permintaan ibuku.
Itu isi sebagian surat dari diriku sendiri di hari kemudian, serta sebuah pengharapanku untukmu di hari kemudian pula.
Unfortunately, It is just lucid dream :D
Komentar
Posting Komentar