G/H

G:
Senandung pelagu seruling di padang melati meremukkan raga bersua sukma membuka rasa. Ternyata intip kisi terang mata itu bersemayam berkata makna jua. Jelujur kenistaan yang disegerakan waktu telah terungkap sebagai lakon dibalik layar. Engkau yang menawarkan sensasi firdaus hingga melayang disegerakan datang kala bermuka pemuka jurang. Akhir'a engkau harus berakhir dan tak pernah berawal. Kasta dua muka menderma rongga udara merajam keheningan. Bersaksi bukan engkau penentas akhir. Kau hanya siklus. Bagai putaran roda yang bila tak pernah terputar dengan janji kupaksa bergelinding dengan siksa tanpa kata, tanpa sentuh. Saya terusik benar dengan seluruh perasaanmu, terkadang engkau melempar kemunafikan pada rongga tenggorokanku, mengoyak keintiman antara kejujuran dan kepercayaan. Hanya gatal kurasa. Meradang merah terburuk'a. Tak perlu penawar.
H:
Engkau bagai angka dalam bahasa. Kepastian mutlak yang tak terbantahkan. Tak terjamah oleh pemangsa dunia biasa. Kerinduanku padamu didahulukan waktu. Mulai esok dan selalu, hariku adalah engkau. Datang menyambut dengan keramahan, tak kugubris karena pembangunku suara parau pangeran merah, bukan bidadari pemuja awal. Malamku hanyalah gubahan seluruh kebohongan. Semua yang terlihat jauh disana kau rasa indah, kau pandangi dalam ingkaran cahaya, mereka hanya mengiringi engkau pada dunia lelap. Siangku hanya kenistaan tak terbantahkan. Kau terlalu nyaman dengan terang'a, silau'a, hangat'a. Dibalik itu ada sengat yang tak bisa kau tahan, tak bisa kau pahami. Sengat beda pandang yang akan datang padamu jika seluruh inginmu berwujud, terbakarmu suatu waktu ku tak tahu. Andai kau pahami putaran itu, aku teruntuk engkau pemutus rantai, kedatanganku di hari akan datang perusak ketidakwajaran perasaanmu kali ini.

Komentar