Apa kabar?
Dia atau kamu
Semoga
Kau tak mengerti
Untuk dia dan kamu
Sama akar 361
Kata kata ini hanya tumpah dari kepalaku
Maafkan aku
Aku melanggar janjiku sendiri
Aku harusnya diam
Tapi kamu penjahat terhebat
Kamu selalu mengganggu sebelum
berwujud dalam kata kata
Apapun alasan
Aku sadar
Kepergian
Seni
Bahasa Tuhan
Kepalamu panas
Hatimu keras
Telingamu lemah
Kamu terlalu sama
Biasa
Kenapa
Kamu sama?
Aku salah
Aku kira
Tidak
Salahkan saja dirimu
Salahkan
Rasa salah mengisi rongga udara
Tubuhmu sehat rasamu pahit
Parasmu manis rasanya pedas
Gila kali kamu
Kacau
Kau nikmati hidup
Dalam tawamu
Ada selasar hujat dendamku kemarin
Kamu lupa?
Beruntung
Dendam tak bernyawa
Padam seketika
Tak bermata pisau
Tumpul tanpa senyum dan kata
Tenang aku sudah lupa
Lupa?
Pisauku kata kata
Perasaanmu lah darahnya
Telah kering darahnya
Pisauku minta darah lain
Karena manis saja
Aku memang terlalu
Terlalu semuanya
Terlihat aku
Menyesal?
Sedetik kemarin iya
Namun
Kita sama tertawa sekarang
Sayang
Tawamu kulihat penuh luka
Enggan aku suka
Merah merona bersimpuh darah
Manis sekali adinda
Seolah olah
Lalalalala
Setidaknya tawamu penuh beban ya
Aku sangat senang kamu diam
Kamu kalah seolah kamu menang
Hakim, silahkan ketuk palunya
Tuk tuk tuk
Kok masih tak membela diri?
Mati berdiri?
Aku tak berhenti, maaf
Aku tak tahu
Aku hanya tak tahu
Tak pernah tahu
Tak pernah lagi ingin tahu
Aku juga biasa
Tapi kamu butuh terbiasa
Kamu atau dia
Karena
Bedanya
Setelah ini aku tak lagi berjalan
Terbang ke udara
Atau
Jatuh ke dasar jurang
Dua dan tak ada lain
Aku tak bakal lagi biasa
Serius
Dia atau kamu luar biasa
Nanti
Suatu saat kamu akan
Mengerti
Saat
Genggamanku
Menguatkanmu
Aku melupakanmu
Aku bergerak
Padanya
Atau padamu
Tak tahu
Kalaupun padamu
Biar kau seka dulu lukanya
Karena
Dia milikku juga
Sekarang
Tapi
Kapal pesiar atau dia dulu?
Pesiar dulu
Dia itu takdir
Pesiar itu alasan aku berlari
Dia ada setelah aku berlari
Kamu?
Dia tak lebih darimu
Sungguh tentu
Setidaknya dia mengerti
Lebih mengerti
Tak pura pura mati
10 27
Semoga
Kau tak mengerti
Untuk dia dan kamu
Sama akar 361
Kata kata ini hanya tumpah dari kepalaku
Maafkan aku
Aku melanggar janjiku sendiri
Aku harusnya diam
Tapi kamu penjahat terhebat
Kamu selalu mengganggu sebelum
berwujud dalam kata kata
Apapun alasan
Aku sadar
Kepergian
Seni
Bahasa Tuhan
Kepalamu panas
Hatimu keras
Telingamu lemah
Kamu terlalu sama
Biasa
Kenapa
Kamu sama?
Aku salah
Aku kira
Tidak
Salahkan saja dirimu
Salahkan
Rasa salah mengisi rongga udara
Tubuhmu sehat rasamu pahit
Parasmu manis rasanya pedas
Gila kali kamu
Kacau
Kau nikmati hidup
Dalam tawamu
Ada selasar hujat dendamku kemarin
Kamu lupa?
Beruntung
Dendam tak bernyawa
Padam seketika
Tak bermata pisau
Tumpul tanpa senyum dan kata
Tenang aku sudah lupa
Lupa?
Pisauku kata kata
Perasaanmu lah darahnya
Telah kering darahnya
Pisauku minta darah lain
Karena manis saja
Aku memang terlalu
Terlalu semuanya
Terlihat aku
Menyesal?
Sedetik kemarin iya
Namun
Kita sama tertawa sekarang
Sayang
Tawamu kulihat penuh luka
Enggan aku suka
Merah merona bersimpuh darah
Manis sekali adinda
Seolah olah
Lalalalala
Setidaknya tawamu penuh beban ya
Aku sangat senang kamu diam
Kamu kalah seolah kamu menang
Hakim, silahkan ketuk palunya
Tuk tuk tuk
Kok masih tak membela diri?
Mati berdiri?
Aku tak berhenti, maaf
Aku tak tahu
Aku hanya tak tahu
Tak pernah tahu
Tak pernah lagi ingin tahu
Aku juga biasa
Tapi kamu butuh terbiasa
Kamu atau dia
Karena
Bedanya
Setelah ini aku tak lagi berjalan
Terbang ke udara
Atau
Jatuh ke dasar jurang
Dua dan tak ada lain
Aku tak bakal lagi biasa
Serius
Dia atau kamu luar biasa
Nanti
Suatu saat kamu akan
Mengerti
Saat
Genggamanku
Menguatkanmu
Aku melupakanmu
Aku bergerak
Padanya
Atau padamu
Tak tahu
Kalaupun padamu
Biar kau seka dulu lukanya
Karena
Dia milikku juga
Sekarang
Tapi
Kapal pesiar atau dia dulu?
Pesiar dulu
Dia itu takdir
Pesiar itu alasan aku berlari
Dia ada setelah aku berlari
Kamu?
Dia tak lebih darimu
Sungguh tentu
Setidaknya dia mengerti
Lebih mengerti
Tak pura pura mati
10 27
Komentar
Posting Komentar